Posted by: wewene on: October 28, 2008
jam 12 lebih.
saatnya makan siang. dia keluar sebentar dari ruang kerjanya yang sempit dan menyesakkan itu. berjalan menuju warung nasi di tenda tepian rel kereta api.
setiba disitu, memilih menu makan siangnya :
nasi
kepala ayam
dan tahu
sayuran yang tersedia hanya sayur pare.
“sayurnya pahit gak bu?”
“ga begitu pahit”
“mau deh dikit”
kemudian disahut dengan suara salah satu pengunjung warung,
“sekarang pahit, nanti [...]
Posted by: wewene on: October 25, 2008
i guess it’s destiny that left us invisible though we get along with many things to say..
here i am, closing my eyes and starting to live life close to reality..
dikutip dari, Ketika Daun Bercerita